MASYARAKAT RESAH AKIBAT LIMBAH SAGU DI BUANG KE SUNGAI DAN KE LAUT, APA TANGGAPAN BUPATI KEP. MERANTI

MERANTI, suarakedaulatannews.com – Keberadaan pabrik pengelolaan kilang sagu milik Alai desa darul taqzim kecamatan Tebingtinggi barat kabupaten kepulauan Meranti akan susah mendapat ikan karena tidak mampu di sungai yang terindikasi tercemar limbah sagu. Selain berdampak buruk kepada pada para nelayan juga berpotensi merusak tanaman kelapa warga masyarakat.

Pasalnya, akibat limbah sagu yang di buang ke sungai atau kelaut akan terjadi pendalaman mengakibatkan air tidak lancar mengalir di anak- anak sungai. Dan yang paling di resahkan warga masyarakat ada lah bau yang timbulkan limbah sagu saat air sudah surut, baunya sangat menyengat juga air yang biasanya di gunakan masyarakat untuk mandi tidak dapat di gunakan lagi karena menimbulkan bau yang menyengat, ujar salah seorang warga masyarakat di desa darul takzim kecamatan tebing tinggi barat yang tak mau di sebut namanya sebut saja Amad saat berbicang-bincang dengan suara Kedaulatan news.com jumaat (16/7/2021) Amat menjelaskan, sisa pengelolaan sagu yang sering di buang ke sungai atau ke laut akan merusak fungsi sungai itu sendiri.

” Sisa ampas sagu maupun air sagu sering kita lihat di buang ke sungai atau kelaut ujarnya seraya menunjukkan limbah sagu di atas permukaan air berbuih. Kalau limbah pengelolaan sagu ke sungai sudah jelas rusak ekosistim yang ada kata Amat melanjutkan, karena dalam limbah yang di buang masih terkandung nittrogen, bau yang berbahaya ke ikan, ujarnya. Hal itu kata Amat, di karenakan limbah tersebut mengandung zat asam yang berlebihan di hasil dari pembuangan limbah tersebut, sehingga semua, habitat ikan di sekitarnya mati semua, ini bukan sesuatu rahasia umum lagi semua pihak telah mengetahui akibat pembuangan limbah ke sungai. Hal yang sama juga di katakan warga masyarakat lainnya mereka merasa di rugikan akibat pembuangan limbah sagu dari kilang tersebut. Hasil pencaharian kami sebagai nelayan kecil- kecilan di sungai/ laut yang di buang limbah sagu sangat terganggu, tanggapan kami sangat sulit sekali mendapatkan ikan di sungai atau di laut yang telah di cemari limbah sagu ini, selain baunya juga menyengat limbah ini menimbulkan molekol- molekol- (gas) yang di duga pengelolaan sagu tersebut di duga mengunakan bahan kimia sebagai bahan pemutih sagunya ” tuturnya.

Karena saya warga di sini, maka setiap harinya saya dapat melihat bahwa kilang sagu ini sudah mencemari lingkungan, jika di lihat secara kasat mata misalnya air hitam pekat selain bau busuk menyengat. Selain itu, tidak terlihat ada kehidupan di sekitar aliran sungai yang di kotori limbah”jelas Amat lagi.Hal ini kata Amat sangat aneh bertahun-tahun beroperasi di duga tidak mengantongi izin dari pemerintah kabupaten kepulauan meranti. Hal ini sangat berpotensi bagi pelaku usaha lainnya, menjalankan usahanya tanpa mengantongi ini. Lalu apa tindakan bupati kepulauan Meranti Muhamad Adil. Di duga tidak memiliki izin juga sudah meresahkan warga masyarakat akibat limbahnya di buang ke sungai/ke laut ujarnya dengan nada bertanya. Tidak heran air sungai /air laut di sekitar terlihat keruh, kotor dan berbuih serta mengeluarkan bau busuk yang menyengat ” orang saja tidak tahan menciumi baunya.apa lagi ikan ” katanya menambahkan.

Padahal, sudah di jelaskan pada pasal 36 ayat(1) undang-undang no.32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ( uupplh) menyebutkan bahwa, setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki AMDAL atau UKL- UPL wajib memiliki izin lingkungan katanya ( Idrus)